Melepas Perahu Sang Tuan


Perahu itu mulai menepi ke tepian
Jangkarnya menyentuh pasir secara perlahan
Ku kira Tuan akan menetap dan bertahan
Melanjutkan ukiran kisah yang dulu sempat tertahan
Betapa bahagianya diri ketika sedang datang mengunjungiku, Tuan
Bercengkrama dan menikmati senja yang sedang menampakkan diri
Bersama-sama mengukir nama kita dengan belati
Tak luput ukiran tanda sayang berbentuk hati yang berharap akan terpatri
Ku rasa kedekatan kita mungkin melebihi intuisi
Yang tak pernah luput ku sebut dalam do'a dan ku tulis dalam diari
Berpergian mengelilingi pulau dengan perahu penuh kenangan
Tak mengira akhirnya pedih itu tiba meruntuhkan
Segala mimpi yang ku harap dapat bersama dilakukan
Dengan gagah Tuan melompat dari perahu harapan
Disusul dengan wanita berparas cantik yang Tuan bantu untuk turun
Tuan..
Ku kira kau datang untuk melanjutkan kisah yang belum tamat ini
Tapi kepergianmu menamatkan cerita sepotong ini secara sepihak
Tuan..
Kini perahumu adalah saksi bisu kisah cintaku yang tak berlanjut
Ukiran di rumah pohon hanyalah sebatas kenangan yang tak berbalas
Tuan..
Berat hari menunggu kepulanganmu
Lebih berat lagi kini aku harus melepas perahummu tuan
Bukan untuk mencari jati diri yang Tuan gaungkan dulu
Namun menemani wanita itu untuk membuka lembaran baru
Tuan..
Meski ragamu bukan lagi milikku
Bolehkah rasa ini tetap jadi milikku?
Menjadi kenangan yang semoga akan menemani hariku
Meski kepedihan yang ku percaya tidak menjadi suatu keabadian

Comments